BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang Masalah
Masa remaja awal merupakan
masa transisi, dimana usianya berkisar antara 13 sampai 16 tahun atau yang
biasa disebut dengan usia belasan yang tidak menyenangkan, dimana terjadi juga
perubahan pada dirinya baik secara fisik, psikis, maupun secara sosial
(Hurlock, 1973). Pada masa transisi tersebut kemungkinan dapat menimbulkan masa
krisis, yang ditandai dengan kecenderungan munculnya perilaku menyimpang. Pada
kondisi tertentu perilaku menyimpang tersebut akan menjadi perilaku yang
mengganggu (Ekowarni, 1993).
Melihat kondisi tersebut
apabila didukung oleh lingkungan yang kurang kondusif dan sifat keperibadian
yang kurang baik akan menjadi pemicu timbulnya berbagai penyimpangan perilaku
dan perbuatan-perbuatan negatif yang melanggar aturan dan norma yang ada di
masyarakat yang biasanya disebut dengan kenakalan remaja. Kenakalan remaja
dalam studi masalah sosial dapat dikategorikan ke dalam perilaku menyimpang.
Dalam perspektif perilaku
menyimpang masalah sosial terjadi karena terdapat penyimpangan perilaku dari
berbagai aturan-aturan sosial ataupun dari nilai dan norma sosial yang berlaku.
Perilaku menyimpang dapat dianggap sebagai sumber masalah karena dapat
membahayakan tegaknya sistem sosial. Penggunaan konsep perilaku menyimpang
secara tersirat mengandung makna bahwa ada jalur baku yang harus ditempuh.
Perilaku yang tidak melalui jalur tersebut berarti telah menyimpang.
Untuk mengetahui latar
belakang perilaku menyimpang perlu membedakan adanya perilaku menyimpang yang
tidak disengaja dan yang disengaja, diantaranya karena pelaku kurang memahami
aturan-aturan yang ada.
B. Rumusan Masalah
·
Apa yang dimaksud dengan kenakalan remaja?
·
Apa penyebab kenakalan remaja?
·
Bagaimana cara mengatasi kenakalan remaja?
·
Bagaimana fungsi keluarga bagi remaja?
C. Tujuan
- Mengetahui tentang kenakalan remaja
- Menjelaskan tentang penyebab kenakalan remaja
- Mengungkapkan cara untuk mengatasi kenakalan
remaja
- Mendeskripsikan tentang fungsi bagi keluarga
BAB II
PEMBAHASAN
I.
KENAKALAN REMAJA
Akhir-akhir
ini fenomena kenakalan remaja makin meluas. Bahkan hal ini sudah terjadi sejak
dulu. Para pakar psikolog selalu mengupas masalah yang tak pernah
habis-habisnya ini. Kenakalan Remaja, seperti sebuah lingkaran hitam yang tak
pernah putus. Sambung menyambung dari waktu ke waktu, dari masa ke masa, dari
tahun ke tahun dan bahkan dari hari ke hari semakin rumit.
Masalah
kenalan remaja merupakan masalah yang kompleks terjadi di berbagai kota di
Indonesia. Sejalan dengan arus modernisasi dan teknologi yang semakin
berkembang, maka arus hubungan antar kota-kota besar dan daerah semkain lancar,
cepat dan mudah. Dunia teknologi yang semakin canggih, disamping memudahkan
dalam mengetahui berbagai informasi di berbagai media, disisi lain juga membawa
suatu dampak negatif yang cukup meluas diberbagai lapisan masyarakat.
Kenakalan
remaja biasanya dilakukan oleh remaja-remaja yang gagal dalam menjalani
proses-proses perkembangan jiwanya, baik pada saat remaja maupun pada masa
kanak-kanaknya. Masa kanak-kanak dan masa remaja berlangsung begitu singkat,
dengan perkembangan fisik, psikis, dan emosi yang begitu cepat. Secara
psikologis, kenakalan remaja merupakan wujud dari konflik-konflik yang tidak
terselesaikan dengan baik pada masa kanak-kanak maupun remaja para pelakunya.
Seringkali didapati bahwa ada trauma dalam masa lalunya, perlakuan kasar dan
tidak menyenangkan dari lingkungannya, maupun trauma terhadap kondisi
lingkungannya, seperti kondisi ekonomi yang membuatnya merasa rendah diri.
Kenakalan remaja meliputi semua
perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh
remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di
sekitarnya.
Para ahli pendidikan sependapat
bahwa remaja adalah mereka yang berusia 13-18 tahun. Pada usia tersebut,
seseorang sudah melampaui masa kanak-kanak, namun masih belum cukup matang
untuk dapat dikatakan dewasa. Ia berada pada masa transisi.
a. Definisi
Kenakalan Remaja Menurut Para Ahli
·
Kartono, ilmuwan sosiologi
Kenakalan Remaja atau dalam bahasa
Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala
patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian
sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang.
·
Santrock
"Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal."
"Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal."
b. Sejak
Kapan Masalah Kenakalan Remaja Mulai Disoroti?
Masalah kenakalan remaja mulai
mendapat perhatian masyarakat secara khusus sejak terbentuknya peradilan untuk
anak-anak nakal (juvenile court) pada 1899 di Illinois, Amerika Serikat.
c. Jenis-Jenis
Kenakalan Remaja
- Penyalahgunaan
narkoba
- Seks
bebas
- Tawuran
antara pelajar
d. Penyebab
Terjadinya Kenakalan Remaja
Perilaku 'nakal' remaja bisa
disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari
luar (eksternal). Faktor internal:
- Krisis
identitas
Perubahan biologis dan sosiologis
pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama,
terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua,
tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal
mencapai masa integrasi kedua.
- Kontrol
diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari
dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat
diterima akan terseret pada perilaku 'nakal'. Begitupun bagi mereka yang telah
mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan
kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Faktor eksternal:
- Keluarga
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja. - Teman
sebaya yang kurang baik
- Komunitas/lingkungan
tempat tinggal yang kurang baik.
e. Hal-Hal
Yang Bisa Dilakukan Untuk Mengatasi Kenakalan Remaja
- Kegagalan
mencapai identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau
diatasi dengan prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak
mungkin figur orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya
dengan baik juga mereka yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya
gagal pada tahap ini.
- Adanya
motivasi dari keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
- Kemauan
orangtua untuk membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang
harmonis, komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
- Remaja
pandai memilih teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan
dengan siapa dan di komunitas mana remaja harus bergaul.
- Remaja
membentuk ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman
sebaya atau komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.
II.
MENGATASI
KENAKALAN REMAJA
1.
Pendekatan
Afektif Lingkungan Sosial Terdekat
Kenakalan
remaja semakin populer dan menjadi masalah yang ‘lumrah ‘ di era modern ini. Hal
ini akan semakin sulit untuk ditanggulangi jika perilaku tersebut sudah menjadi
budaya dan kebiasaan remaja. Remaja yang bersangkutan sudah jauh berada di
dalam kubangannya (Kenakalan Remaja).
Walaupun kenakalan remaja dianggap
lumrah dan lazim dilalui oleh remaja serta merupakan aspek perkembangan dalam
masa tahap-tahap perkembangannya, namun kenakalan remaja ini bukanlah hal perkembangan
yang mutlak harus dilalui oleh remaja. Hal ini tentunya juga dapat dicegah atau
minimal dikurangi dengan pendekatan-pendekatan emosional serta ikatan hubungan
yang baik dari lingkungan sosialnya, dalam hal ini khususnya keluarga dan orang
tua sebagai lingkungan sosial terdekatnya. Karena dengan hal tersebut, para
remaja (anak) akan merasa diperhatikan, dipedulikan, yang kemudian akan dapat membantu
para remaja itu untuk menemukan identitas dirinya dalam proses identifikasi
diri.
Komunikasi yang intens juga sangat
membantu anak untuk mengenali dan memahami masalah yang dihadapinya serta
merasa aman dan nyaman ketika bersama orang-orang terdekatnya. Karena tidak
jarang, kenakalan remaja disebabkan oleh rasa frustasi, kesulitan mencari sosok
yang dapat dijadikan panutan dalam pola hidupnya serta kesukaran dalam
penyesuaian terhadap perubahan-perubahan dan perkembangan yang terjadi pada
dirinya, baik dari aspek fisik maupun mentalnya dengan lingkungan sosialnya.
2.
Bangun
Remaja Kita Ke Arah Yang Positif
Saat ini kecenderungan para remaja kita
memang sudah semakin baik dan mereka rata-rata semakin proaktif, berani dan
tidak canggung-canggung lagi. Semoga hal ini mereka arahkan selalu ke arah yang
positif dan dijauhkan dari segala niat buruk, melenceng atau keberanian yang
salah tempat. Oleh karena itu, kita sebagai warga sosial yang saling care dan memberi
support yg baik, seharusnya perlu untuk mengembangkan wadah untuk tempat
kumpul-kumpul mereka. Baik itu dalam seni tari, musik, band, marching-band,
seni bela diri, pantomim atau masih banyak lagi yang lainnya.
Dari
pada mereka mejeng berderet-deret di pinggiran jalan atau ngumpul-ngumpul di
tempat kost teman, mending arahkan mereka pada suatu club/wadah yang berguna
dan terkoordinir dengan baik. Pasti banyak wadah-wadah remaja macam ini, tetapi
masih banak yang kurang.
Sebaiknya harus lebih diperluas lagi
untuk menjangkau para remaja kita dimanapun mereka berada, jangan bedakan
mereka juga dari hartanya, tapi buat suatu tempat yg menyenangkan, hidup dan
membuat mereka semakin kreatif, proaktif, dinamis dan arif. Gelanggang generasi
muda harus digencarkan lagi aktifitasnya, sangat disayangkan apabila generasi
muda kita hancur. Oleh karena itu dengan adanya kegiatan yang positif pasti banyak yang tertarik dan antusias.
3.
Membaca
Pengakuan Mereka Yang Terpengaruh Kekerasan Di Televisi
Pengakuan ini saya dengar dalam
acara di salah satu televisi swasta dan semakin mempertebal keyakinan saya
tentang dampak televisi yang mesti diperhatikan oleh orang tua dalam membimbing
psikologi anak.
Seseorang, yang mengaku semasa
kecilnya gemar menonton film-film macam mafia yang kerap membunuh dan tergambar
betul kekerasannya, tanpa pengawasan dari orang tua, ternyata merasakan sesuatu
yang negatif. Dianya, cenderung berangan-angan, menjadi orang yang seperti itu.
Pikirnya, alangkah hebatnya mereka, membuat orang takut dengan pistol, membunuh
mereka yang tidak disukai olehnya dan mendapat uang.
Begitu mudahnya sehingga dalam
perkembangan pribadinya, dia mulai terjun dalam aksi kriminalitas seperti pembunuhan,
narkoba, dan mencuri.
Maka dari itu, orang tua tetap harus
menempatkan diri untuk bisa menjadi filter dari apa yang ditonton anak. Mesti
tetap memberikan pengertian tentang apa yang ditonton, serta melarang anak-anak
menonton tayangan seperti BUSER, PATROLI dan semacamnya. Karena kadang kala,
dalam acara tersebut terdapat pengakuan terdakwa. Bagaimana dia memperkosa (maaf)
bocah, dan ini bukan hal yang sepele. Sinetron anak macam BIDADARI (peri-peri
baik) tetap diberikan pengertian kepada anak, karna mereka belum mengerti
benar.
Semoga ini menjadi acuan yang
berguna bagi kita semua dan menjadi mamfaat baik orang tua maupun generasi
muda.
4. Berikan Sarana Ekspresi
Remaja
memang mempunyai banyak masalah, masa-masa remaja adalah masa pembelajaran yang
sangat kritis. Remaja yang baik mudah-mudahan lebih baik lagi jika tua
nantinya, remaja yang nakal dan ‘arogan’ mudah-mudahan cepat tobat dan kembali menjadi
baik.
Banyak
remaja yang nakal karena kurang sarana dalam mengekspresikan diri, mereka butuh
aktualisasi diri. Ada kemungkinan banyak sarana akan tetapi harus bayar mahal.
Oleh karena itu, maka diadakanlah
kegiatan rutin tiap minggu khusus remaja yang nakal seperti:
- Yang suka tawuran sarananya ring
tinju di gelora bung karno kalau perlu.
- Yang suka perang main pedang
sarananya main anggar.
- Yang suka lempar-lemparan batu
sarananya lapangan olah raga tolak peluru, lempar lembing, lempar cakram dan
lain sebagainya.
Sering
terdengar keluhan dari remaja bahwa keluarga tidak mempunyai arti apa-apa.
Karena itu, jauh sebelumnya arti
keluarga sudah harus diterapkan supaya tetap mempunyai arti dan kelak
bermanfaat bagi remaja guna-mempersiapkan kedewasaannya.
III. FUNGSI KELUARGA BAGI REMAJA
Ada tiga faktor yang merupakan fungsi dari keluarga seperti
berikut ini :
1.
Keluarga dapat memenuhi kebutuhan remaja akan keakraban dan kehangatan.
2. Keluarga dapat memupuk kepercayaan diri anak dan
perasaan aman untuk dapat berdiri sendiri dan bergaul dengan orang lain.
3. Keluarga
dapat memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan yang
dimiliki anak.
Sesungguhnya, banyak
sekali faktor-faktor yang mendorong remaja menjadi nakal. Pendapat orang
tentang kenakalan remaja tidak sama. Perbedaan itu timbul karena lingkungan dan
situasi tempat remaja itu tinggal. Pengertian kenakalan remaja dapat diartikan
sebagai ungkapan dari ketegangan perasaan, kegelisahan, dan kecemasan atau
tekanan batin dari remaja itu sendiri.
Kenakalan remaja juga
dapat diartikan sebagai perbuatan-perbuatan yang mengganggu ketenangan dan
kepentingan orang lain dan kadang diri sendiri. Biasanya kenakalan remaja pada
umumnya adalah akibat dari kegagalan sistem kontrol diri. Yakni gagal mengawasi
dan mengatur perbuatan dan inisiatif mereka.
Jadi merupakan produk
ketidakmampuan anak remaja dalam mengendalikan emosi primitif mereka, yang
kemudian disalurkan dalam perbuatan kenakalan.
Kualitas rumah tangga atau kehidupan
keluarga memainkan peranan penting dalam membentuk kepribadian remaja. Oleh
karena itu - tradisi, sikap hidup, kebiasaan, dan falsafah hidup keluarga besar
sekali pengaruhnya dalam membentuk tingkah laku dan sikap setiap anggota
keluarga. Dengan kata lain, tingkah laku orangtua yang cenderung kriminal mudah
sekali menular kepada anaknya.
Tindakan kenakalan remaja dalam keluarga
juga bisa disebabkan oleh banyak hal.
Antara lain:
1. Anak kurang mendapat perhatian, kasih sayang dan
tuntunan orangtua, karena ayah dan ibunya sibuk mengurusi permasalahannya serta
konflik batin sendiri.
2. Anak-anak tidak pernah mendapatkan latihan fisik
dan mental yang sangat diperlukan dalam hidupnya. Mereka tidak dibiasakan
berdisiplin dan mengontrol diri dengan baik.
3. Kurang teraturnya pengisian waktu luang. Orangtua
jarang memperhatikan cara-cara yang baik dalam-mengisi waktu luang bagi
anak-anak. Akibatnya, banyak kegiatan-kegiatan yang sebenarnya diminati anak
tetapi tidak disalurkan, sehingga timbul perbuatan negatif sebagai
kompensasinya.
4. Tidak stabilnya keadaan sosial ekonomi suatu
keluarga. Apabila' ' keadaan sosial dan ekonomi suatu keluarga tidak stabil,
kemungkinan - anak akan mengalami guncangan sosial, sehingga timbul
tindakan-tindakan yang dipandang sebagai kenakalan remaja.
5. Banyak film dan buku-buku bacaan yang tidak baik.
Film dan buku-buku bacaan yang menggambarkan kejahatan banyak sekali disenangi
kaum remaja. Jiwa yang tertekan membuat mereka mencari jalan penyaluran lewat
tokoh-tokoh dalam buku-buku bacaan tersebut. Akhirnya secara tak sadar, mereka
meniru pahlawan-pahlawan yang tidak bermoral dalam film atau bacaan itu.
6. Lingkungan tinggal juga berpengaruh terhadap
kenakalan remaja. Kurangnya, perhatian masyarakat terhadap pendidikan anak
sangat berpengaruh terhadap pembentukan kepribadian anak.
1.
Hukuman Tidak Efektif
Untuk
mengembalikan anak-anak yang nakal kepada budi pekerti yang baik, tidaklah
mungkin melakukannya dengan hukuman fisik. Hukuman tersebut hanya berpengaruh
dalam waktu singkat saja.
Memang,
hukuman itu dapat menahan atau menggantikan kelakuan-kelakuan tersebut selama hukuman
itu mengancam. Tetapi setelah itu, ia akan kembali kepada kelakuan-kelakuan
yang tak baik apabila ketegangan perasaannya itu tetap tak terselesaikan.
Guna
menghindari anak dari kegelisahan dan kenakalan-kenakalan tersebut, cara-cara
berikut dapat dilakukan yaitu:
1. Orangtua
harus mengerti dasar-dasar pendidikan sehingga dapat memberikan perhatian,
kasih sayang dan tuntunan pendidikan yang diperlukan anak. Orangtua juga harus
sedikit meninggalkan urusan karier untuk mengurusi masalah serta konflik yang
dialami anak.
2. Pengisian waktu luang dengan teratur. Untuk
mengeluarkan keinginan, semangat yang meluap dan mengurangi pikiran negatif
perlu dicari jalan keluarga seperti kegiatan-kegiatan olah raga, penyaluran
hobby anak dan sebagainya.
3. Penyaringan buku-buku bacaan dan film. Dalam hal
ini orangtua harus mampu menyaring cerita atau film yang harus dibaca dan
dilihat oleh anak-anak remaja. Dengan demikian, mereka memiliki nilai-nilai
moral dan tidak menemukan teladan yang tidak baik dalam film maupun bacaan
tersebut.
4. Membentuk markas-markas bimbingan dan penyuluhan.
Dari pengalaman, banyak sekali anak-anak remaja yang menderita kegelisahan dan
kebingungan karena mereka tidak mengerti akan pertumbuhan yang sedang mereka
lalui. Oleh karena itu perlu adanya markas-markas penyuluhan dan bimbingan
untuk menampung kesukaran-kesukaran mereka.
5. Pengertian dan pengalaman ajaran agama. Orangtua
yang tidak mengerti akan ajaran agama tidak akan dapat memberikan didikan budi
pekerti pada anak-anaknya. Oleh karena itu perlu disebarluaskan pengajaran
agama yang murni dan tidak diwarnai kepentingan-kepentingan pribadi, ekonomi
dan politik.
6. Orangtua perlu menunjukkan kesabaran dalam
menghadapi perubahan tingkah laku remaja yang sulit diduga sifat, sikap dan
jalan pikirannya.
Dengan
memberikan inti pendidikan ini, kemana saja anak pergi ia akan selalu ingat
pesan orangtua dan dapat menjaga dirinya sendiri. Anak menjadi mandiri dan
dapat dipercaya, karena dirinya sendirinyalah yang akan mengendalikan dirinya
sendiri. Selama seseorang masih memerlukan pihak lain untuk mengendalikan
dirinya sendiri, selama itu pula ia akan berpotensi melanggar peraturan bila si
pengendali tidak berada di dekatnya.
Inti pendidikan ini terdiri dari dua
hal yaitu :
· HIRI = MALU BERBUAT JAHAT
Benteng penjaga pertama agar remaja
tidak salah langkah dalam hidup ini adalah menumbuhkan hiri atau rasa
malu melakukan perbuatan yang tidak benar atau jahat.Dalam memberikan
pendidikan, orangtua hendaknya dengan tegas dapat menunjukkan kepada anak
perbedaan dan akibat dari perbuatan baik dan tidak baik atau perbuatan benar
dan tidak benar. Kejelasan orangtua menerangkan hal ini akan dapat menghilangkan
keraguan anak dalam mengambil keputusan. Keputusan untuk memilih kebaikan dan
meninggalkan kejahatan. Penjelasan akan hal ini sebaiknya diberikan sejak dini.
Semakin awal semakin baik.
Berikanlah pengertian dan teladan
tentang latihan kemoralan. Berikanlah kesempatan anak agar dapat meniru
perilaku kebajikan orangtuanya. Ajarkan dan didiklah mereka untuk tidak
melakukan pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan, kebohongan, dan
mabuk-mabukan. Gunakanlah acara-acara di televisi sebagai alat pengajaran.
Tunjukkan kepada mereka bahwa kejahatan tidak akan pernah menang. Kejahatan
akan musnah pada akhirnya. Sebaliknya, walaupun kebaikan kadang menderita di
awalnya akhirnya akan memperoleh kebahagiaan juga.
Apabila anak sudah dapat dengan
jelas membedakan kebaikan dan keburukan, tahap berikutnya adalah menumbuhkan
rasa malu untuk melakukan kejahatan. Kondisikanlah pikiran anak punya rasa
malu, merasa tidak pantas melakukan pelanggaran peraturan kemoralan baik yang
diberikan oleh Sang Buddha maupun oleh masyarakat lingkungan. Mengkondisikan
munculnya rasa malu dapat menggunakan cara seperti ketika orangtua mengenalkan
pakaian kepada anak-anaknya. Orangtua selalu berusaha memberikan pakaian yang
layak untuk anak-anaknya.
Namun, apabila suatu saat anak
mengenakan pakaian dengan tidak pantas atau mungkin tersingkap sedikit,
orangtua segera membenahinya dan mengatakan, menegaskan bahwa hal itu
memalukan. Sikap itu masih berkenaan dengan masalah pakaian fisik. Pakaian
batin pun juga demikian. Orangtua bila mengetahui bahwa anaknya melakukan suatu
perbuatan yang tidak pantas maka katakan segera bahwa hal itu memalukan.
Kemudian berikanlah saran agar dia tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Bila
perbuatan itu masih diulang, berilah sanksi. Berilah hukuman yang mendidik bila
perbuatan itu tetap diulang. Usahakan dengan berbagai cara agar anak tidak lagi
mengulang perbuatan yang tidak baik itu.
· OTTAPPA = TAKUT AKIBAT PERBUATAN JAHAT
Apabila anak bertambah besar,
orangtua selain menunjukkan bahwa suatu perbuatan tertentu tidak pantas,
memalukan untuk dilakukan oleh anaknya, maka orangtua dapat meningkatkannya
dengan memberikan uraian tentang akibat perbuatan buruk yang dilakukan anaknya.
Akibat buruk terutama adalah yang diterima oleh si anak sendiri, kemudian
terangkan pula dampak negatif yang akan diterima pula oleh orangtua,
keluarganya serta lingkungannya. Orangtua dapat memberikan perumpamaan bahwa
bila diri sendiri tidak ingin dicubit, maka janganlah mencubit orang lain.
Artinya, apabila kita tidak senang terhadap suatu perbuatan tertentu,
sebenarnya hampir semua orang pun bahkan semua mahluk cenderung tidak suka pula
dengan hal itu. Rata-rata semua mahluk, dalam hal ini, manusia memiliki
perasaan serupa. Penjelasan seperti ini akan membangkitkan kesadaran anak bahwa
perbuatan buruk yang tidak ingin dialaminya akan menimbulkan perasaan yang sama
bagi orang lain. Dan apalagi bila telah tiba waktunya nanti, kamma buruk
berbuah, penderitaan akan mengikuti si pelaku kejahatan.
Menumbuhkembangkan perasaan malu dan
takut melakukan perbuatan yang tidak baik ataupun berbagai bentuk kejahatan
inilah yang akan menjadi ‘pengawas setia’ dalam diri setiap orang, khususnya
para remaja. Selama dua puluh empat jam sehari, ‘pengawas’ ini akan
melaksanakan tugasnya. Kemanapun anak pergi, ia akan selalu dapat mengingat dan
melaksanakan kedua hal sederhana ini. Ia akan selalu dapat menempatkan dirinya
sendiri dalam lingkungan apapun juga sehingga akan mampu membahagiakan dirinya
sendiri, orangtua dan juga lingkungannya.
Orangtua sudah tidak akan merasa
khawatir lagi menghadapi anak-anaknya yang beranjak remaja. Orangtua tidak akan
ragu lagi menyongsong era globalisasi. Orangtua merasa mantap dengan persiapan
mental yang telah diberikan kepada anak-anaknya. Oleh karena itu, pendidikan
anak di masa kecil yang sedemikian rumit tampaknya, akan dapat dinikmati
hasilnya di hari tua.
Sesungguhnya memang diri sendiri
itulah pelindung bagi diri sendiri. Suka dan duka yang kita alami adalah hasil
perbuatan kita sendiri. Sebab, oleh diri sendiri kejahatan dilakukan dan oleh
diri sendiri pula kejahatan dapat dihindarkan. Oleh karena itu, dengan
memberikan pengertian yang baik tentang inti pendidikan tersebut kepada
anak-anak, diharapkan anak akan dapat membawa diri dan menjaga dirinya sendiri
agar dapat tercapai kebahagiaan. Baik dari kebahagiaan bagi dirinya sendiri,
kebahagiaan bagi orangtuanya maupun kebahagiaan bagi lingkungannya.
BAB III
KESIMPULAN
Kenakalan
remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang dari norma-norma hukum pidana
yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut akan merugikan dirinya sendiri
dan orang-orang di sekitarnya.
Definisi
Kenakalan Remaja Menurut Para Ahli adalah :
·
Kartono, ilmuwan sosiologi
Kenakalan Remaja atau dalam bahasa
Inggris dikenal dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala
patologis sosial pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian
sosial. Akibatnya, mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang.
·
Santrock
"Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal."
"Kenakalan remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal."
Adapun Penyebab
Terjadinya Kenakalan Remaja adalah Perilaku 'nakal' remaja bisa
disebabkan oleh faktor dari remaja itu sendiri (internal) maupun faktor dari
luar (eksternal). Faktor internal:
1)
Krisis identitas
Perubahan biologis dan sosiologis
pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama,
terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua,
tercapainya identitas peran. Kenakalan ramaja terjadi karena remaja gagal
mencapai masa integrasi kedua.
2)
Kontrol diri yang lemah
Remaja yang tidak bisa mempelajari
dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat
diterima akan terseret pada perilaku 'nakal'.
Begitupun bagi mereka yang telah
mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan
kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.
Faktor eksternal:
1
Keluarga
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama dan penolakan terhadap eksistensi anak. Bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama dan penolakan terhadap eksistensi anak. Bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.
2
Teman sebaya yang kurang baik.
3
Komunitas/lingkungan tempat tinggal
yang kurang baik.
Adapun cara mengatasi remaja yaitu :
1 Pendekatan
Afektif Lingkungan Sosial Terdekat
2 Bangun
Remaja Kita Ke Arah Yang Positif
3 Membaca
Pengakuan Mereka Yang Terpengaruh Kekerasan Di Televisi
4 Berikan
Sarana Ekspresi
Ada tiga faktor yang merupakan fungsi dari
keluarga yaitu seperti berikut ini :
1.
Keluarga dapat memenuhi kebutuhan remaja akan keakraban dan kehangatan.
2. Keluarga dapat memupuk kepercayaan diri anak dan
perasaan aman untuk dapat berdiri sendiri dan bergaul dengan orang lain.
3. Keluarga
dapat memberikan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan-kemampuan yang
dimiliki anak.
DAFTAR PUSTAKA
Soerjono Soekanto, SH, MA, Prof. Dr., Remaja dan
masalah-masalahnya, Penerbit PT BPK Gunung Mulia dan Yayasan Kanisius,
Cetakan kelima, Jakarta, 1985
Vajiranyanavarorasa, H.R.H. The Late Supreme
Patriarch, Prince, Navakoda, alih bahasa: Bhikkhu Jeto, Yayasan
Dhammadipa Arama, Cetakan kedua, Jakarta, Agustus 1989
Paritta Suci, Yayasan
Dhammadipa Arama, Cetakan Ketujuh, Jakarta, 1994
Eitzen, Stanlen D. 1986. Social Problems. Allyn
and Bacon inc, Boston, Sydney, Toronto.
Kaufman, James M. 1989. Characteristics of
Behaviour Disorders of Children and Youth. Merril Publishing Company,
Columbus, London, Toronto.
Mulyono, B. 1995. Pendekatan
Analisis Kenakalan Remaja dan Penanggulangannya. Kanisius, Yogyakarta.
Soerjono,
Soekanto. 1988. Sosiologi Penyimpangan. Rajawali, Jakarta.
Willis, S. 1994. Problema Remaja dan
Pemecahannya. Penerbit Angkasa, Bandung.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar